Kamis, 21 Maret 2013

sejarah bunga matahari


Sejarah BungaMatahari: 2000 – 2012

2000
Tanggal 19 April 2000, terdorong oleh keinginan untuk belajar menulis puisi dalam bahasa Indonesia, Gratiagusti Chananya Rompas membentuk milis BungaMatahari (BuMa)* di Yahoo! Groups.
Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun, pertama milis ini adalah Danar Pramesti. Setelah itu, secara perlahan namun pasti, anggota-anggota lain bermunculan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk BuMa (sebutan bagi anggota BuMa), sejumlah TukangKebun lain pun diangkat. Secara berturut-turut mereka adalah Nurman Priatna, Pugar Restu Julian, Aloysius Widyosuwasto, Lovelli AriestiYoshi Febriyanto dan Festi Noverini.
*baca cara bergabung di sini
2001
Salah satu permasalahan yang dihadapi BuMa di awal keberadaannya adalah kiriman puisi berbahasa Inggris. Pada kenyataannya memang banyak penduduk BuMa yang juga menulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, sempat terjadi perdebatan seputar pengiriman puisi yang menggunakan bahasa tersebut. Akhirnya, tanggal 30 Desember 2001, dibentuklah milis baru yang khusus menampung puisi-puisi berbahasa Inggris yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia. Milis tersebut diberi nama TheToilet.
Perdebatan selanjutnya berkisar pada genre karya yang dapat dikirim ke BuMa. Keputusannya, walaupun BuMa tetap mengutamakan diri pada puisi berbahasa Indonesia, penduduk BuMa yang ingin berbagi cerita pendek atau naskah drama dapat meletakkannya di folder “Files” yang memang disediakan oleh Yahoo! Tetapi, sejauh ini, hanya cerita pendek yang dapat ditemukan dalam folder tersebut.
2002
Pada perayaan ulangtahun BuMa yang kedua terbentuk kesepakatan bahwa BuMa akan mengadakan kopi darat resmi merangkap acara pembacaan puisi rutin. Maka, pada pertengahan 2002, diadakanlah KebunKata di Gedung 28, Kemang, Jakarta Selatan. KebunKata I berlangsung meriah dan diramaikan oleh 40an anggota maupun non-anggota. Sayangnya, hal yang sama tidak terjadi pada KebunKata selanjutnya sehingga KebunKata IV di Gedung IV, FIB UI pada akhir tahun 2002 menjadi kopi darat BuMa yang terakhir.
2003
Pada bulan-bulan pertama BuMa, keinginan menerbitkan antologi sendiri sudah menjadi isu santer. Tetapi, karena satu dan lain hal, rencana tersebut terpaksa ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Tak disangka-sangka, sekitar akhir September 2003, seorang penduduk baru bernama Yosevlin Indrawati, membangunkan rencana tersebut dari hibernasinya. Pada tanggal 2 Oktober 2003, berkumpullah sejumlah penduduk BuMa di ak.sa.ra Café, Kemang, Jakarta Selatan untuk membahas persiapan antologi tersebut. Pada saat itu juga tim panitia dibentuk dan diputuskan bahwa proses seleksi akan dimulai minggu berikutnya. Sejak itu, seleksi dan rapat panitia dilakasanakan intens seminggu sekali. Jumlah panitia pun bertambah sampai akhirnya mencapai 18 orang. Antologi ini direncanakan akan diluncurkan pada 19 April 2004, tepat pada ulangtahun BuMa yang ke-4.
Pada tanggal 7 Oktober 2003, BuMa mendapat saudara baru, yaitu milis bernama kwaci yang dibentuk oleh Lovelli Ariesti. Milis ini mengkhususkan diri pada cerita pendek, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris.
2004
Satu peristiwa dapat memicu terjadinya peristiwa-peristiwa lain. Sejalan dengan persiapan antologi, KebunKata pun dihidupkan kembali. 30 Januari 2004, BuMa menggelar lagi KebunKata di Kafe Buku, Depok. Selanjutnya, 28 Februari 2004, KebunKata diadakan di Lokananta Terrace Resto. Sedangkan pada 26 Maret 2004, untuk pertama kalinya BuMa mencoba mempertunangkan puisi dan musik lewat KebunKata AKUSTIKA di Warung Apresiasi.
2005
BuMa terus mengadakan kerjasama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun non-literasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi.
Salah satu KebunKata diadakan di Ruang Rupa dan BuMa juga diundang untuk membaca puisi di berbagai acara, seperti Bursa Buku Murah yang diselenggarakan Elex Media Komputindo di Bentara Budaya (1 Februari 2005),  tribut untuk Chairil Anwar “Aku, Chairil dan aku” di Galeri Nadi (28 April 2005), Selasar Bumi Walhi, dan peringatan Hari Sampah.
2006
Setelah perjuangan dan drama yang panjang, BuMa akhirnya berhasil meluncurkan antologi puisi pertamanya, “Antologi BungaMatahari”, pada 25 Januari 2006 di toko buku Aksara Kemang. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Avatar Press, perusahaan penerbitan muda yang sangat mendukung semangat BuMa meningkatkan gairah berpuisi dalam bahasa Indonesia. Budayawan Seno Gumira Ajidarma menulis kata pengantar untuk buku ini, mendampingi 182 puisi dari 92 penulis yang semuanya pernah tampil di milis BuMa.
Terbitnya “Antologi BungaMatahari” mendapat sambutan yang luar biasa dan tahun ini menjadi tahun yang amat sibuk buat BuMa. KebunKata diadakan di sejumlah tempat, seperti Tornado Coffee, Zoe Cafe, MP Book Point dan BuMa juga sempat bertandang kembali ke Ruang Rupa.
Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-6, BuMa mengadakan acara istimewa yang diberi nama BANDUNG LAUTAN KATA. Selama di Bandung, BuMa ngamen puisi di sepanjang Dago, menggelar diskusi tentang “Antologi BungaMatahari di toko buku QB dan tentunya ada KebunKata juga, yang diadakan di Potluck Coffeebar & Library. Selain itu, teman-teman yang di Jakarta pun mengadakan perayaan ulang tahun BuMa di Omah Sendok. Benar-benar pesta kata-kata yang meriah!
BuMa juga banyak mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara-acara yang melibatkan komunitas atau lembaga lain, seperti pameran yang diselenggarakan dalam rangka Hari Buku Sedunia (World Book Day), ulang tahun UNICEF serta menyelenggarakan diskusi & pertunjukan puisi dengan judul “Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!” di Teater Utan Kayu. BuMa juga mengadakan acara khusus bersama Sitor Situmorang di library@senayan. Yang juga menarik adalah BuMa diminta menjadi kontributor puisi untuk majalah Outmagz April – Mei 2006. 
Di akhir tahun, BuMa ternyata masih punya tenaga untuk menggelar sebuah acara yang cukup ambisius yang diberi nama RumahKata. Ambisius, karena di acara ini ada pameran komik dan cerpen beserta ilustrasinya, pemutaran film, pertunjukan musik dan tentunya pembacaan puisi. RumahKata diadakan di West Pacific bekerjasama dengan Milis Kwaci, Konfiden serta Amenk dan Keke.
2007
KebunKata tahun ini tidak terlalu banyak, tapi sempat diadakan di Bandung (atas inisiatif penduduk BuMa di sana) dan Jakarta. Yang sangat melekat di ingatan adalah KebunKata di tahun ini sangat musikal karena juga menjadi showcase mini bagi teman-teman dari White Shoes and The Couples Company dan Efek Rumah Kaca.
Sebuah kerjasama yang sangat istimewa dan menggairahkan terjalin dengan CCF (sekarang IFI) untuk memeriahkan Printemps des Poetes atau Bulan Puisi. Acara dengan judul “Banjir Puisi di Stasiun” diadakan di Stasiun Gambir dan berjalan sangat meriah. Tak hanya undangan atau teman-teman yang memang berniat hadir ke acara ini yang berpartisipasi. Penumpang yang sedang menunggu atau baru turun dari kereta ikut menikmati pertunjukan puisi ini. Seorang porter pun mendapat inspirasi untuk menulis puisi di tempat lalu membacakannya saat itu juga.
Di tahun ini juga, BuMa diminta mengisi program Poetry Attack yang disiarkan di radio Prambors. Beberapa anggota BuMa sempat mendapatkan giliran untuk membacakan puisinya dengan latar belakang lagu yang dekat dengan anak muda.
2008
Salah satu KebunKata yang menarik tahun ini adalah KebunKata (Rumah) Masa Depan yang diadakan di San Diego Hills, Kerawang. Berangkat dan pulang dengan bis charteran, peserta seharian piknik piknik dalam arti sebenarnya (makan-makan, berenang, nyanyi sambil main gitar) dan piknik puisi. Puisi ternyata tetap hidup dinikmati di mana saja, bahkan di area pemakaman sekalipun.
KebunKata Kebun yang diadakan di Kedai Kebun, Yogyakarta adalah perayaan ulangtahun BuMa yang diprakarsai oleh teman-teman di sana. Pembacaan puisi berlangsung santai dan meriah, dan dihadiri oleh Saut Situmorang.
BuMa kembali mengisi kegiatan Bulan Puisi bersama CCF. Kali ini, acara bertema “Eulogi untuk seseorang” digelar di blitz megaplex Grand Indonesia. Pembacaan puisi kali ini berbeda dengan yang pernah dilakukan BuMa karena lebih mirip dengan konsep flash mob. Pada waktu yang sudah ditentukan, ‘gerombolan’ BuMa yang memakai topi dan topeng a la Perancis keluar dari sebuah ruangan rahasia dan ramai-ramai membacakan puisi di antara pengunjung bioskop, diiringi tabuhan jembe Otak and Chair. Poster puisi juga dipasang hampir tersembunyi di beberapa area bioskop, seperti di bilik-bilik toilet dan banner bergerak yang menayangkan poster-poster film, untuk menunjukkan bahwa puisi bisa dengan manis terselip dan menjadi kejutan menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Atas undangan Debra Yatim dan Diatra Zulaika, BuMa meramaikan acara Bulan Bahasa di SMU Al-Izhar Pondok Labu, 14 November 2008. Bersama penyair tamu Martin Jankowski, BuMa mengajak siswa-siswi di sana bermain-main dengan puisi.
Di penghujung tahun, BuMa menerima tawaran dari Change, sebuah bagian dari Jurnal Perempuan, untuk memberikan workshop puisi (4x dalam sebulan) bagi sejumlah pelajar beberapa sekolah menengah di Jakarta. Hasilnya sangat menggembirakan sehingga hampir mengharukan. Sebagian karya peserta workshop dapat dilihat di sini.
2009
Untuk Bulan Puisi bersama CCF tahun ini, BuMa mengadakan lomba puisi bertema “Mari Tertawa” untuk anak-anak SD. Pemenang lomba diundang untuk membacakan puisinya dan sekaligus ditampilkan dalam bentuk pantomim oleh Philippe Bizot. Puisi-puisi yang dihasilkan dari acara ini sangat menggembirakan dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Salah satunya, “Ibu dan Facebook” karya Serafina, bahkan menjadi viral di jaringan media sosial. Semua memang bisa berpuisi, termasuk anak-anak.
Tahun ini, BuMa kembali diminta mengisi program radio: Drive n Jive’s Book Club, obrolan santai dan menyenangkan tentang sastra, yang dipandu oleh Iwet dan Rahmah.
2010 - 2011
Kadang-kadang bunga matahari juga ingin sembunyi dari cahaya.
2012
Sebuah perdebatan mengenai puisi di Twitter membukakan mata BuMa bahwa era media sosial di mana informasi dapat didapat dengan cepat dan mudah ternyata tak menjamin pandangan orang-orang yang bahkan mengaku senang berpuisi berkembang luas. BuMa kemudian memutuskan untuk kembali lagi aktif menyelenggarakan acara-acara puisi. Selain men#eksperimenmembaca, BuMa memperkenalkan apa yang mereka sebut Festival Tanpa Nama.ggelar kembali KebunKata di Tornado Coffee dan The Goods Dept (bekerjasama dengan Komunitas IPhonesia), lewat Festival BungaMatahari dan gerakan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar