Kamis, 21 Maret 2013

sejarah bunga matahari


Sejarah BungaMatahari: 2000 – 2012

2000
Tanggal 19 April 2000, terdorong oleh keinginan untuk belajar menulis puisi dalam bahasa Indonesia, Gratiagusti Chananya Rompas membentuk milis BungaMatahari (BuMa)* di Yahoo! Groups.
Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun, pertama milis ini adalah Danar Pramesti. Setelah itu, secara perlahan namun pasti, anggota-anggota lain bermunculan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk BuMa (sebutan bagi anggota BuMa), sejumlah TukangKebun lain pun diangkat. Secara berturut-turut mereka adalah Nurman Priatna, Pugar Restu Julian, Aloysius Widyosuwasto, Lovelli AriestiYoshi Febriyanto dan Festi Noverini.
*baca cara bergabung di sini
2001
Salah satu permasalahan yang dihadapi BuMa di awal keberadaannya adalah kiriman puisi berbahasa Inggris. Pada kenyataannya memang banyak penduduk BuMa yang juga menulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, sempat terjadi perdebatan seputar pengiriman puisi yang menggunakan bahasa tersebut. Akhirnya, tanggal 30 Desember 2001, dibentuklah milis baru yang khusus menampung puisi-puisi berbahasa Inggris yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia. Milis tersebut diberi nama TheToilet.
Perdebatan selanjutnya berkisar pada genre karya yang dapat dikirim ke BuMa. Keputusannya, walaupun BuMa tetap mengutamakan diri pada puisi berbahasa Indonesia, penduduk BuMa yang ingin berbagi cerita pendek atau naskah drama dapat meletakkannya di folder “Files” yang memang disediakan oleh Yahoo! Tetapi, sejauh ini, hanya cerita pendek yang dapat ditemukan dalam folder tersebut.
2002
Pada perayaan ulangtahun BuMa yang kedua terbentuk kesepakatan bahwa BuMa akan mengadakan kopi darat resmi merangkap acara pembacaan puisi rutin. Maka, pada pertengahan 2002, diadakanlah KebunKata di Gedung 28, Kemang, Jakarta Selatan. KebunKata I berlangsung meriah dan diramaikan oleh 40an anggota maupun non-anggota. Sayangnya, hal yang sama tidak terjadi pada KebunKata selanjutnya sehingga KebunKata IV di Gedung IV, FIB UI pada akhir tahun 2002 menjadi kopi darat BuMa yang terakhir.
2003
Pada bulan-bulan pertama BuMa, keinginan menerbitkan antologi sendiri sudah menjadi isu santer. Tetapi, karena satu dan lain hal, rencana tersebut terpaksa ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Tak disangka-sangka, sekitar akhir September 2003, seorang penduduk baru bernama Yosevlin Indrawati, membangunkan rencana tersebut dari hibernasinya. Pada tanggal 2 Oktober 2003, berkumpullah sejumlah penduduk BuMa di ak.sa.ra Café, Kemang, Jakarta Selatan untuk membahas persiapan antologi tersebut. Pada saat itu juga tim panitia dibentuk dan diputuskan bahwa proses seleksi akan dimulai minggu berikutnya. Sejak itu, seleksi dan rapat panitia dilakasanakan intens seminggu sekali. Jumlah panitia pun bertambah sampai akhirnya mencapai 18 orang. Antologi ini direncanakan akan diluncurkan pada 19 April 2004, tepat pada ulangtahun BuMa yang ke-4.
Pada tanggal 7 Oktober 2003, BuMa mendapat saudara baru, yaitu milis bernama kwaci yang dibentuk oleh Lovelli Ariesti. Milis ini mengkhususkan diri pada cerita pendek, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris.
2004
Satu peristiwa dapat memicu terjadinya peristiwa-peristiwa lain. Sejalan dengan persiapan antologi, KebunKata pun dihidupkan kembali. 30 Januari 2004, BuMa menggelar lagi KebunKata di Kafe Buku, Depok. Selanjutnya, 28 Februari 2004, KebunKata diadakan di Lokananta Terrace Resto. Sedangkan pada 26 Maret 2004, untuk pertama kalinya BuMa mencoba mempertunangkan puisi dan musik lewat KebunKata AKUSTIKA di Warung Apresiasi.
2005
BuMa terus mengadakan kerjasama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun non-literasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi.
Salah satu KebunKata diadakan di Ruang Rupa dan BuMa juga diundang untuk membaca puisi di berbagai acara, seperti Bursa Buku Murah yang diselenggarakan Elex Media Komputindo di Bentara Budaya (1 Februari 2005),  tribut untuk Chairil Anwar “Aku, Chairil dan aku” di Galeri Nadi (28 April 2005), Selasar Bumi Walhi, dan peringatan Hari Sampah.
2006
Setelah perjuangan dan drama yang panjang, BuMa akhirnya berhasil meluncurkan antologi puisi pertamanya, “Antologi BungaMatahari”, pada 25 Januari 2006 di toko buku Aksara Kemang. Buku kumpulan puisi ini diterbitkan oleh Avatar Press, perusahaan penerbitan muda yang sangat mendukung semangat BuMa meningkatkan gairah berpuisi dalam bahasa Indonesia. Budayawan Seno Gumira Ajidarma menulis kata pengantar untuk buku ini, mendampingi 182 puisi dari 92 penulis yang semuanya pernah tampil di milis BuMa.
Terbitnya “Antologi BungaMatahari” mendapat sambutan yang luar biasa dan tahun ini menjadi tahun yang amat sibuk buat BuMa. KebunKata diadakan di sejumlah tempat, seperti Tornado Coffee, Zoe Cafe, MP Book Point dan BuMa juga sempat bertandang kembali ke Ruang Rupa.
Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-6, BuMa mengadakan acara istimewa yang diberi nama BANDUNG LAUTAN KATA. Selama di Bandung, BuMa ngamen puisi di sepanjang Dago, menggelar diskusi tentang “Antologi BungaMatahari di toko buku QB dan tentunya ada KebunKata juga, yang diadakan di Potluck Coffeebar & Library. Selain itu, teman-teman yang di Jakarta pun mengadakan perayaan ulang tahun BuMa di Omah Sendok. Benar-benar pesta kata-kata yang meriah!
BuMa juga banyak mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara-acara yang melibatkan komunitas atau lembaga lain, seperti pameran yang diselenggarakan dalam rangka Hari Buku Sedunia (World Book Day), ulang tahun UNICEF serta menyelenggarakan diskusi & pertunjukan puisi dengan judul “Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!” di Teater Utan Kayu. BuMa juga mengadakan acara khusus bersama Sitor Situmorang di library@senayan. Yang juga menarik adalah BuMa diminta menjadi kontributor puisi untuk majalah Outmagz April – Mei 2006. 
Di akhir tahun, BuMa ternyata masih punya tenaga untuk menggelar sebuah acara yang cukup ambisius yang diberi nama RumahKata. Ambisius, karena di acara ini ada pameran komik dan cerpen beserta ilustrasinya, pemutaran film, pertunjukan musik dan tentunya pembacaan puisi. RumahKata diadakan di West Pacific bekerjasama dengan Milis Kwaci, Konfiden serta Amenk dan Keke.
2007
KebunKata tahun ini tidak terlalu banyak, tapi sempat diadakan di Bandung (atas inisiatif penduduk BuMa di sana) dan Jakarta. Yang sangat melekat di ingatan adalah KebunKata di tahun ini sangat musikal karena juga menjadi showcase mini bagi teman-teman dari White Shoes and The Couples Company dan Efek Rumah Kaca.
Sebuah kerjasama yang sangat istimewa dan menggairahkan terjalin dengan CCF (sekarang IFI) untuk memeriahkan Printemps des Poetes atau Bulan Puisi. Acara dengan judul “Banjir Puisi di Stasiun” diadakan di Stasiun Gambir dan berjalan sangat meriah. Tak hanya undangan atau teman-teman yang memang berniat hadir ke acara ini yang berpartisipasi. Penumpang yang sedang menunggu atau baru turun dari kereta ikut menikmati pertunjukan puisi ini. Seorang porter pun mendapat inspirasi untuk menulis puisi di tempat lalu membacakannya saat itu juga.
Di tahun ini juga, BuMa diminta mengisi program Poetry Attack yang disiarkan di radio Prambors. Beberapa anggota BuMa sempat mendapatkan giliran untuk membacakan puisinya dengan latar belakang lagu yang dekat dengan anak muda.
2008
Salah satu KebunKata yang menarik tahun ini adalah KebunKata (Rumah) Masa Depan yang diadakan di San Diego Hills, Kerawang. Berangkat dan pulang dengan bis charteran, peserta seharian piknik piknik dalam arti sebenarnya (makan-makan, berenang, nyanyi sambil main gitar) dan piknik puisi. Puisi ternyata tetap hidup dinikmati di mana saja, bahkan di area pemakaman sekalipun.
KebunKata Kebun yang diadakan di Kedai Kebun, Yogyakarta adalah perayaan ulangtahun BuMa yang diprakarsai oleh teman-teman di sana. Pembacaan puisi berlangsung santai dan meriah, dan dihadiri oleh Saut Situmorang.
BuMa kembali mengisi kegiatan Bulan Puisi bersama CCF. Kali ini, acara bertema “Eulogi untuk seseorang” digelar di blitz megaplex Grand Indonesia. Pembacaan puisi kali ini berbeda dengan yang pernah dilakukan BuMa karena lebih mirip dengan konsep flash mob. Pada waktu yang sudah ditentukan, ‘gerombolan’ BuMa yang memakai topi dan topeng a la Perancis keluar dari sebuah ruangan rahasia dan ramai-ramai membacakan puisi di antara pengunjung bioskop, diiringi tabuhan jembe Otak and Chair. Poster puisi juga dipasang hampir tersembunyi di beberapa area bioskop, seperti di bilik-bilik toilet dan banner bergerak yang menayangkan poster-poster film, untuk menunjukkan bahwa puisi bisa dengan manis terselip dan menjadi kejutan menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Atas undangan Debra Yatim dan Diatra Zulaika, BuMa meramaikan acara Bulan Bahasa di SMU Al-Izhar Pondok Labu, 14 November 2008. Bersama penyair tamu Martin Jankowski, BuMa mengajak siswa-siswi di sana bermain-main dengan puisi.
Di penghujung tahun, BuMa menerima tawaran dari Change, sebuah bagian dari Jurnal Perempuan, untuk memberikan workshop puisi (4x dalam sebulan) bagi sejumlah pelajar beberapa sekolah menengah di Jakarta. Hasilnya sangat menggembirakan sehingga hampir mengharukan. Sebagian karya peserta workshop dapat dilihat di sini.
2009
Untuk Bulan Puisi bersama CCF tahun ini, BuMa mengadakan lomba puisi bertema “Mari Tertawa” untuk anak-anak SD. Pemenang lomba diundang untuk membacakan puisinya dan sekaligus ditampilkan dalam bentuk pantomim oleh Philippe Bizot. Puisi-puisi yang dihasilkan dari acara ini sangat menggembirakan dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Salah satunya, “Ibu dan Facebook” karya Serafina, bahkan menjadi viral di jaringan media sosial. Semua memang bisa berpuisi, termasuk anak-anak.
Tahun ini, BuMa kembali diminta mengisi program radio: Drive n Jive’s Book Club, obrolan santai dan menyenangkan tentang sastra, yang dipandu oleh Iwet dan Rahmah.
2010 - 2011
Kadang-kadang bunga matahari juga ingin sembunyi dari cahaya.
2012
Sebuah perdebatan mengenai puisi di Twitter membukakan mata BuMa bahwa era media sosial di mana informasi dapat didapat dengan cepat dan mudah ternyata tak menjamin pandangan orang-orang yang bahkan mengaku senang berpuisi berkembang luas. BuMa kemudian memutuskan untuk kembali lagi aktif menyelenggarakan acara-acara puisi. Selain men#eksperimenmembaca, BuMa memperkenalkan apa yang mereka sebut Festival Tanpa Nama.ggelar kembali KebunKata di Tornado Coffee dan The Goods Dept (bekerjasama dengan Komunitas IPhonesia), lewat Festival BungaMatahari dan gerakan

sejarah tangkuban perahu

Sejarah Tangkuban Perahu

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapa akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.

Rabu, 20 Maret 2013

artikel sejarah mekah

Mekkah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Makkah al-Mukarramah
مكة المكرمة

Bendera

Lambang
Nama lain: Ummul-Qura
Negara Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi
Provinsi Provinsi Mekkah
Konstruksi Ka'bah +2000 SM
Didirikan Tidak diketahui
Bagian Arab Saudi 1924
Pemerintahan
 • Mayor Osama Al-Bar
 • Gubernur Provinsi Khalid al Faisal
LuasMunisipalitas Mekkah
 • Perkotaan 850 km2 (330 mil²)
 • Metro 1.200 km2 (500 mil²)
Populasi (2007)
 • Kota 1,700,000
 • Kepadatan 4,200/km2 (2.625/sq mi)
 • Perkotaan 2,053,912
 • Metro 2,500,000
  Jumlah kotamadya Mekkah
Zona waktu EAT (UTC+3)
 • Musim panas (DST) EAT (UTC+3)
Kode Pos (5 digit)
Kode wilayah +966-2
Situs web Munisipalitas Mekkah
Arabic albayancalligraphy.svg Artikel ini mengandung teks bahasa Arab. Tanpa rendering support, Anda mungkin melihat tanda tanya, kotak, atau lambang selain abjad hija'iyah.
Mekkah atau Makkah al-Mukarramah (bahasa Arab: مكة المكرمة) atau disingkat dengan Makkah merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi.
Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji,[1] Di kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka'bah di dalamnya. Bangunan Ka'bah ini dijadikan patokan arah kiblat untuk ibadah salat umat Islam di seluruh dunia. Kota ini merupakan kota suci umat Islam dan tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Dalam Al-Qur'an, kota ini disebut juga dengan 11 nama yang berbeda.[2]

Geografi

Kota Mekkah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut kota Jeddah. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung gunung dengan bangunan Ka'bah sebagai pusatnya 21°25′24″N 39°49′24″E. Dengan demikian, pada masa dahulu kota ini rawan banjir bila di musim hujan sebelum akhirnya pemerintah Arab Saudi memperbaiki kota ini dan merenovasi kota ini. Seperti pada umumnya kota kota di wilayah Arab Saudi, kota ini beriklim gurun.

sejarah kerajaan hindu-budha

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari











































Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.
Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke-12, melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai akhir 

sejarah kebun raya bogor

Sejarah

Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.
Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.
Monumen Olivia Raffles
Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di Kebun Raya Bogor.
Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen. Dalam surat itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.
Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).
Sekitar 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.
Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia).
Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub.
Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Pada tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor.
Pada mulanya kebun ini hanya akan digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Namun pada perkembangannya juga digunakan sebagai wadah penelitian ilmuwan pada zaman itu (1880 - 1905).
Kebun Raya Bogor selalu mengalami perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr. R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin lembaga penelitian yang bertaraf internasional.
Pada saat kepemimpinan tokoh-tokoh itu telah dilakukan kegiatan pembuatan katalog mengenai Kebun Raya Bogor, pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung dari Amerika, kayu besi dari Palembang dan Kalimantan), dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu:
Kebun Raya Bogor sepanjang perjalanan sejarahnya mempunyai berbagai nama dan julukan, seperti
  • ’s Lands Plantentuin
  • Syokubutzuer (zaman Pendudukan Jepang)
  • Botanical Garden of Buitenzorg
  • Botanical Garden of Indonesia
  • Kebun Gede
  • Kebun Jodoh